Thursday, 25 September 2014

Bulungan

Mentari pagi berkilau di antara dahan-dahan
Semilir angin mengelus pipiku perlahan
Hati ini damai disapa embun dedaunan
Yang antarkan langkah pasti menelusuri Bulungan

Mendawai kulewati dengan langkah tertahan
Mengingatkan akan manis-pahit yang kutelan
Teringat kelas satuku yang penuh perjuangan
Dan ratusan kejadian yang takkan kulupakan

Selama setahun pertama aku bertahan
Mental lelah ditempa pengalaman
Tak ada celah bermalas-malasan
Kata mereka ini miniatur kehidupan

Tujuh puluhku sekolah unggulan
Segudang prestasi ribuan penghargaan
Rasa bangga takkan mampu kuhilangkan
Rasa jiwa menyatu pada Bulungan

Setiap lima oktober tradisi tahunan diadakan
Memperingati lahirnya sekolahku tersayang
Bersamaan dengan peringatan ABRI dilahirkan
Upacara khidmat pun dilangsungkan

Kami se-angkatan menyelanggarakan perayaan
Salah satu tradisi yang tak pernah hilang
Keahlian dan prestasi kami dipamerkan
Inilah bukti cinta pada tujuh puluh tersayang

Di sudut sekolah terdapat deretan jajanan
Tidak hanya minuman atau kudapan
Di sini bisa ditemui beragam makanan
Dengan cita rasa lezat yang tak tertahankan

Cara kami berkawan tidak seperti sekolah kebanyakan
Yang berkelompok dan saling mengucilkan
Kami rangkul-merangkul penuh kekeluargaan
Sudah seperti saudara satu kandungan

Tiba-tiba terbayang dalam angan
Ada waktunya lingkungan ini kutinggalkan
Siapkah aku merasa kehilangan?
Tujuh puluhku terlalu berharga untuk kujadikan kenangan

Monday, 15 September 2014

Putih Abu-Abu - Kelas Tiga

Yo Sob.

Hari ini bukan hari kelulusan atau wisuda SMA saya. Bukan hari prom night juga. Hari ini saya hanya ingin berbagi perasaan betapa saya senang dengan lulusnya saya dari jenjang menengah akhir. Tuntasnya saya dalam memerankan drama dengan kostum putih abu-abu. Namun, yang paling penting, saya senang sekali akhirnya pintu menuju dunia kedewasaan benar terbuka lebar.Sedikit sedih, bila boleh mengeluh.

Biar saya kupas satu-satu.

Tiga tahun bukan waktu yang sebentar, seharusnya. Waktu yang begitu panjang, hingga sejarah marathon mungkin harus terulang sebanyak tiga puluh kali untuk menjajarinya. Yak, hiperbola, seperti biasa. Tapi saya tidak mengada-ada. Tiga tahun memang seharusnya berlangsung lama. Soalnya, saya pernah digantung cowok selama tiga minggu aja kerasa banget keringnya, digantung di bawah matahari soalnya HEHEHE maaf saya emang agak jayus orangnya :( Oke, intinya tiga tahun harusnya kerasa lama. Harusnya.

KOK INI BEDA.

Semua kerasa cepet banget. Coba deh ya saya mau ajak kalian jalan mundur setahun ke belakang. Saya kelas tiga SMA. Belajar di sebuah sarana pendidikan bergedung sederhana dan banyak pepohonan. Menjaring Jalan Bulungan dan berpelukan erat dengan GOR Bulungan di sampingnya. Jika kalian warga Jakarta, sudah pasti tahu saya menimba banyak ilmu di wilayah Jakarta Selatan. :-D

Yak, di tempat ini semua kenangan indah dan pahit berkolaborasi. Salah satu kenangan indahnya berlangsung di akhir semester satu. Bahu-membahu kami satu angkatan menyelenggarakan ajang pertandingan olahraga dan seni terbesar se-Indonesia bernama "Bulungan Cup" atau kerap mendapat sebutan imut "Bulcup". Ini teasernya btw hahaha :-P

Teaser Bulungan Cup XV

Tahun itu kami kedapatan giliran untuk mempanitiai Bulcup untuk yang kelima belas kalinya. Dan, para pembaca, saya tidak berlebihan ketika menyebutkan ini sebagai ajang terbesar. Panitianya pakai putih abu-abu gitu loh. Tapi pertandingan terbuka luas untuk warga se-Indonesia. Syarat dan ketentuan berlaku tentunya.

Capek, saya masih ingat betul bagaimana rasanya. Persiapan dilakukan mulai dari kelas dua semester dua. Persiapan kencangnya begitu awal semester satu kelas tiga dimulai. Tentu saja persiapan mulai dari waktu tersebut tidak bisa santai dan bermain-main lagi, karena hari H berlangsung pada bulan Desember.

Dan, yah, sambil melakukan berbagai persiapan, kami sudah seperti kejar tayang. Deadline benar-benar seperti malaikat pencabut nyawa yang banyak orang takuti. Dan anehnya, di tengah euforia teman-teman saya yang tegang, saya justru merasa berdebar-debar penuh rasa ingin tahu. Istilahnya, hati saya bilang "This must be very exciting. I won't wait any longer if I could!"

Dan akhirnya hari itu datang juga. Saya termasuk sesi sibuk (ciaaat), sampai ngga ngerasain nikmatnya kasur di rumah selama beberapa hari. Saya bergabung dengan Tim Kreatifnya Ebha (Febrasaka Madindari, Ibu Kreatif Bulungan), menjadi panitia cabang lomba kesenian, juga menjadi wakil ketua Medisnya Mei (Arifha Meitha, ketua PMR SMAN 70 sekaligus ketua Medis Bulcup), dan yang paling saya curahkan perhatian di dalamnya adalah pada pertandingan Karate. Cuma jadi wakil ketua cabang pertandingan, sih, tapi sibuknya bukan main.

Karena perguruan Karate di SMAN 70 adalah INKAI, dan hubungan kami begitu dekat dengan FORKI, maka dalam menyelenggarakan cabang lomba ini saya melakukan kerjasama intensif dengan FORKI. Saat itu kami berkenalan dengan Senpai Yoyo. Pertemuan pertama dilakukan pada pertengahan September. Kami mendapatkan briefing. Beliau menggambarkan seperti apa pertandingan tahun lalu, plus minusnya bagaimana. Lantas di akhir diskusi kami mendapat jobdesk masing-masing. Beberapa pekerjaan yang cukup berat, karena sumber daya yang ada (dalam artian, panitia inti) saat itu hanya saya, Usa, Yana, dan Aginta. Perbedaan yang cukup mencolok bila dibandingkan tahun-tahun sebelumnya yang jumlahnya selalu di atas angka sepuluh. Dan, sekedar informasi saja, panitia inti HARUS kelas tiga. Dalam artian kelas dua sebenarnya boleh berpartisipasi menjadi panitia inti, tapi mereka harus siap capek karena tahun depan, kan, giliran mereka mengadakan acaranya.

Ya, singkat cerita. Tugas mulai kami jalankan. Mulai dari mengajukan proposal kebutuhan biaya kepada panitia pusat, menyebar undangan nonformal ke banyak sekolah yang memiliki link dengan kepanitiaan cabang Karate sebelumnya, dan lain-lain.

C A P E K

Terutama bagian ketika kami harus menyeimbangkan antara belajar dan mondar-mandir sok sibuk. Terus akhirnya datang lah hari H. Hari pembukaan. Ada yang datang nonton nggaaaa nih..haha kami bikin openingn act gitu deh, kalau kepo bisa intip sob:

Opening Act Bulungan Cup XV

Capek, karena bahkan sehari sebelumnya aja kami harus menginap dan pulang larut bagi yang tidak diperbolehkan orangtuanya menginap. Seminggu penuh deh tuh siklus tidur kami ngga ada yang teratur. Tapi kami sangat-sangat menikmati karena acaranya SUKSESS BESAAAARRR

Closing Bulungan Cup XV - 1

Closing Bulungan Cup XV - 2

Kenangan indah selain Bulungan Cup (Bulcup indah tapi kalau harus diulang, duh ngga deh ya makasih) udah pada tau doong pastinyaa :3



Ngga mungkin ngga tau. Hari dimana kami menumpahkan segala isi hati, uneg-uneg, harapan, dan wish-wish spesial gitu di atas baju seragam. wkaka yaaaa tau kan apa.. CORET-CORETAAAAANN :3

SENANG-SENANG

Dan, perbedaan kami dengan banyak sekolah adalah.... kami coret-coretan saat pengumuman lulus sudah keluar. Kalau sekolah lain, kan, pas hari terakhir UN kaan hayo ngaku :-P Jadi ini murni ungkapan kebahagiaan lulus kami, bukan senengnya kami lepas dari Ujian Nasional. Karena... yah.. kami cukup cerdas untuk berfikir kalau setelah detik mengerjakan mata pelajaran UN terakhir habis, kami masih dihadapkan pada kepastian kelulusan UN yang menggantung wkaka


Yaudah, ya, guys. Kayaknya saya kebanyakan cerita. Iya, masa SMA emang terlalu banyak ceritanya. Mungkin bisa ngalahin sinetron Tersanjung (kalau masih ada sih). Saya mau cerita soal masa-masa kelas dua, tapi di episode lain deh. BERANI JAMIN LEBIH HEBOH DARIPADA MASA-MASA KELAS TIGA DEH.

Yaudah. Sekian. Bye. :-)