Thursday, 25 September 2014

Bulungan

Mentari pagi berkilau di antara dahan-dahan
Semilir angin mengelus pipiku perlahan
Hati ini damai disapa embun dedaunan
Yang antarkan langkah pasti menelusuri Bulungan

Mendawai kulewati dengan langkah tertahan
Mengingatkan akan manis-pahit yang kutelan
Teringat kelas satuku yang penuh perjuangan
Dan ratusan kejadian yang takkan kulupakan

Selama setahun pertama aku bertahan
Mental lelah ditempa pengalaman
Tak ada celah bermalas-malasan
Kata mereka ini miniatur kehidupan

Tujuh puluhku sekolah unggulan
Segudang prestasi ribuan penghargaan
Rasa bangga takkan mampu kuhilangkan
Rasa jiwa menyatu pada Bulungan

Setiap lima oktober tradisi tahunan diadakan
Memperingati lahirnya sekolahku tersayang
Bersamaan dengan peringatan ABRI dilahirkan
Upacara khidmat pun dilangsungkan

Kami se-angkatan menyelanggarakan perayaan
Salah satu tradisi yang tak pernah hilang
Keahlian dan prestasi kami dipamerkan
Inilah bukti cinta pada tujuh puluh tersayang

Di sudut sekolah terdapat deretan jajanan
Tidak hanya minuman atau kudapan
Di sini bisa ditemui beragam makanan
Dengan cita rasa lezat yang tak tertahankan

Cara kami berkawan tidak seperti sekolah kebanyakan
Yang berkelompok dan saling mengucilkan
Kami rangkul-merangkul penuh kekeluargaan
Sudah seperti saudara satu kandungan

Tiba-tiba terbayang dalam angan
Ada waktunya lingkungan ini kutinggalkan
Siapkah aku merasa kehilangan?
Tujuh puluhku terlalu berharga untuk kujadikan kenangan

No comments:

Post a Comment